Sukanya di Belajar Smpn 5 krw yaitu mempunyai teman yang baik dan guru yang membimbingku dengan baik seperti Bu Lenawati,Ati Susianah,Hettinora,Siti Bandiyah,Kokom dan Pak Firman,Benar,Endang,Badrian,Patriot dan yang lainnya...juga mendapat ilmu yang bermanfaat....
Dukanya ada beberapa guru yang mengajarnya kurang baik,jarang masuk ke kelas...Mohon cara mengajarnya lebih ditingkatkan agar anak murid bisa mendapat ilmu yang bermanfaat...
Hanya itu saja suka duka di Smpn 5....mohon maaf bila ada tutur kata yang tidak berkenan...saya ucapkan terima kasih
Terima Kasih.....
Selasa, 20 Maret 2012
"Kesan Kesan Belajar Di SMPN 5 Karawang Barat"
Diposting oleh begar2nd di 03.34Tips Meningkatkan Daya Pikir Mu
Diposting oleh begar2nd di 03.11Tips meningkatkan kinerja otak dan Memperlancar aliran darah ke otak
Sebelum saya membahas, apa
saja factor-faktor yang bikin otak kita ‘tumpul’ secara ringkas, kita
tinjau dulu fungsi-fungsi dari setiap bagian otak kita. Struktur otak
dibagi tiga yaitu, otak kanan, kiri dan otak kecil yang berada di
belakang otak besar kita. Otak kanan berfungsi dalam hal persamaan,
khayalan, kreativitas, bentuk atau ruang, emosi, musik dan warna. Daya
ingat otak kanan bersifat panjang (long term memory). Bila terjadi
kerusakan otak kanan misalnya pada penyakit stroke atau tumor otak, maka
fungsi otak yang terganggu adalah kemampuan visual dan emosi.
Otak kiri berfungsi dalam hal perbedaan, angka, urutan, tulisan, bahasa, hitungan dan logika. Daya ingat otak kiri bersifat jangka pendek (short term memory). Bila terjadi kerusakan pada otak kiri maka akan terjadi gangguan dalam hal fungsi berbicara, berbahasa dan matematika.untuk mengasah daya ingat sebenarnya mudah.
Dan
terakhir, otak kecil. Otak inilah yang mengatur keseimbangan kita,
sehingga jika terjadi gangguan pada otak kecil ini, kita akan sering
jatuh kalo berjalan karena keseimbangan kita terganggu.
Selanjutnya hal-hal membikin otak kita menjadi tumpul (selain faktor malas tentunya hehehe):
1. merokok, merokok dapat merusak otak kecil kita, akibat nikotin serta tar.
2.
minum alkhohol, alkhohol mengandung zat keras yang dapat merubah fungsi
saraf kita, sebagian orang yang kebanyakan meminum minuman keras,
otaknya terganggu.
3.
jangan suka menjedotkan kepala ke benda keras. otak sebenarnya sangat
sensitif, satu saraf putus maka saraf yang lain pun terganggu. Jadi lain
kali jangan suka jedotin kepala temen ya kalo becanda. Bisa bodoh
temennya nanti ckckckckckc..........................
4. hindari asap hitam kenalpot, karena akan menyumbat oksigen ke otak, dan bisa jadi otak lemah.
5. istirahat yang cukup, tidur minimal 6 jam setiap hari dan maksimal 8 jam.
Setiap
penyakit, ada obatnya. Begitu juga buat yang pengen menajamkan kembali
fungsi daya otaknya, setajam… silet… semoga aja berhasil ya. Kalo engga…
berarti dah tebel kali ‘karat’ di otaknya. Silahkan konsultasikan
kedokter bagian syaraf agar tidak mengganggu aktifitas anda sehari-hari.
Cara Lain Yang sangat mudah di lakukan untuk meningkatkan kepekaan otak, yaitu :
1.Mengunyah Permen Karet
Yap…
ternyata permen karet dapat meningkatkan konsentrasi dan kinerja otak
yang lelah. Kenapa eh kenapa. Ternyata mengunyah permen karet itu banyak
manfaatnya. apalagi permen karet yang mengandung zat xylitol baik untuk
kesehatan gigi. Dengan mengunyah permen karet, mulut kita akan
merangsang terbentuknya saliva atau air ludah, saliva yang dihasilkan,
ternyata sangat berguna untuk membersihkan gigi dari bakteri-bakteri
yang merusak. Tak hanya itu, mengunyah permen karet sebenarnya juga baik
untuk otak. Gil Leveille, seorang ahli nutrisi dari Wrigley Science Institute
Chicago, menyatakan bahwa mengunyah permen karet bisa meningkatkan
kinerja otak hingga 40 persen! Kesimpulan ini diperoleh berdasarkan
hasil kerja
sama riset dengan peneliti-peneliti dari Jepang. Aktivitas mengunyah
permen karet dapat meningkatkan sirkulasi darah di seputar kepala,
sehingga jumlah oksigen yang dikirim ke otak semakin banyak. Akibatnya
pikiran jadi lebih segar dan konsentrasi meningkat. Kegiatan mengunyah
permen karet itu memberikan perasaan rileks, sehingga dapat membantu
mengurangi stres dan kebosanan. Para ahli menyimpulkan, saat mengunyah
hipotalamus di bagian otak akan melepaskan hormon-hormon spesifik yang
membuat Anda selalu siaga dan waspada.
Mengunyah
permen karet dapat memberikan perasaan kenyang. Tentu saja ini akan
menguntungkan untuk orang yang sedang mengurangi berat badan. Selain itu
juga bermanfaat untuk kecantikkan. Pergerakan rahang saat mengunyah
permen karet itu menggerakkan otot wajah. Ini bermanfaat mengencangkan
wajah, sehingga Anda terlihat awet muda.
2.Mengkonsumsi minyak Ikan
Didalam
minyak ikan terdapat bahan kimia bernama EPA. EPA adalah bahan kimia
yang merupakan makanan bagi otak. Riset menunjukan bahwa minyak ikan
dapat memfasilitasi peningkatan aktivitas pada otak, memperlancar
peredaran darah, meningkatkan memori dan konsentrasi.( Jadi ingat waktu
kecil dulu sering diberi nyokap minyak ikan. Tapi tujuannya biar nafsu
makan ningkat biar gemuk gitu loh gkgkkgkgkgk)
3.Kerjakan sebuah teka teki
Teka-teki
silang, Sudoku atau yang lainnya dapat membuat otak Anda tetap pada
kondisi terbaik. Sama seperti otot, jika Anda tidak berlatih secara
reguler, ia akan kehilangan kemampuannya untuk bekerja secara maksimal
4.Pergi berjalan kaki
Tidak
ada yang dapat mengalahkan udara segar yang dapat menyegarkan pikiran
yang dapat mengurangi percakapan mental yang mengganggu logika dan
pikiran konstruktif. Sebuah perjalanan di pinggiran kota, dekat sungai
atau sekedar di taman akan membantu menyingkirkan awan kelabu dan
membantu pikiran tetap jernih. Kalo yang tinggal diperkotaan, gunakan
waktu libur anda bangun pagi-pagi, ketika udara masih bersih dari asap
knalpot kendaraan. Nikmatilah udara segar dab bersih dipagi har.
5.Mempelajari bahasa baru
Mempelajari bahasa baru dapat sindrom dementia (kemunduran otak) sampai dengan empat tahun menurut artikel yang dimuat pada New Scientist.
Alasan pasti untuk hal ini belum diketahui, namun dipercaya bahwa ia
memiliki hubungan erat dengan peningkatan perdaran darah dan koneksi
saraf yang baik.
6.Tertawa
Tawa
bukan saja merupakan obat terbaik, ia juga dapat meningkatkan fungsi
otak dan menstimulasi kedua sisi otak pada saat yang bersamaan. Tapi
jangan tertawa terus yaaa…ntar bukannya sehat malah ditangkep sama
petugas rumah sakit jiwa. Beuh Parah Tuh...
7.Menjadi kreatif
Melukislah
atau pelajari alat musik yang baru, bergabunglah dengan kelas kesenian
walaupun anda payah dalam hal tersebut. Menjadi kreatif memungkinkan
kita untuk menemukan solusi baru untuk permasalahan yang sudah lama dan
meningkatkan kesadaran pada saat yang bersamaan.
8.Belajar melempar barang
Riset
dari Universitas Regensburg di Jerman memindai otak dari seorang
juggler (pemain sulap yang melemparkan barang) dan menemukan bahwa
kegiatan ini dapat meningkatkan struktur otak. Setelah berlatih selama
tiga bulan, otak akan menunjukan peningkatan signifikan pada dua bagian,
yaitu bagian mid-portal dan posterior intraprietal sulcus kiri. Jadi
kalo punya hobi marah-marah, daripada menonjok tembok atau tereak-tereak
ga jelas. Mari alihkan melempar barang. Amarah tersalurkan, otakpun
jadi cerdas hwakakakakakak tapi jangan melempar barang mahal-mahal.
Bukannya cerdas, tapi jadi bokek And dimarahin nyokap hohohohoh.......
:O
9.Rajin mengkonsumsi Ginkgo biloba
Ginkgo
Biloba dapat membantu kecerdasan otak anda. Itu bener loh. Ginkgo
Biloba telah banyak digunakan sejak 2.800 SM dalam pengobatan
tradisional China, sebagai obat kesehatan otak untuk mencegah pikun pada
usia tua. Zat utama ginkgoflavono-glycoside yang dikandung ginkgo
adalah suatu antioksidan kuat dengan sasaran jaringan otak untuk
membantu kerja otak. Dalam melindungi kesehatan otak, ginkgo
memperlancar aliran darah ke otak untuk memperbaiki fungsi saraf
(neuronal) dan melindungi dari cedera oleh neurotoksin. Selain itu
ginkgo dapat memperbaiki sumbatan aliran darah yang terjadi akibat
penyempitan pembuluh darah.Suplementasi ginkgo adalah untuk memulihkan
Alzheimer (penyakit neurologist akibat penuaan), kurang asupan darah ke
otak (iskemia celebral) dan memperbaiki gangguan fungsi mental akibat
stress kronis. Dari efeknya dalam memperbaiki aliran darah ke
*ehem…kasih tau g yahhh..???, sorry* "penis", ginkgo menjadi pilihan
pertama sebagai obat disfungsi seksual pada pria (impotensia).
10.Mengkonsumsi Coklat
Faktor** Yang MemPengaruhi Belajar
Diposting oleh begar2nd di 03.08Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar dan Pembelajaran
A. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar
Secara umum faktor-faktor yang
memengaruhi hasil Wajar dibedakan atas dua kategori, yaitu faktor
internal dan faktor eksternal Kedua faktor tersebut saling memengaruhi
dalam proses belajar individu sehingga menentukan kualitas hasil
belajar.
a. Faktor internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan psikologis.
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan psikologis.
1) Faktor fisiologis
Faktor-faktor fisiologis adalah
faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu.
Faktor-faktor ini dibedakan menjadi dua macam. Pertama, keadaan tonus
jasmani. Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas
belajar seseorang. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan
pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu. Sebalikrtya,
kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil
belajar yang maksimal. Oleh karena keadaan tonus jasmani sangat
memengaruhi proses belajar, maka perlu ada usaha untuk menjaga kesehatan
jasmani. Cara untuk menjaga kesehatan Jasmani antara lain adalah: 1)
menjaga pola makan yang sehat dengan memerhatikan nutrisi yang masuk ke
dalam tubuh, karena kekurangan gizi atau nutrisi akan mengakibatkan
tubuh cepat lelah, lesu, dan mengantuk, sehingga tidak ada gairah untuk
belajar; 2) rajin berolahraga agar tubuh selalu bugat dan sehat; 3)
istirahat yang cukup dan sehat.
Kedua, keadaan fungsi jasmani/fisiologis.
Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologi pada tubuh
manusia sangat memengaruhi hasil belajar, terutama pancaindra.
Pancaindra yang berfungsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar
dengan baik pula. Dalam proses belajar, pancaindra merupakan pintu
masuk bagi segala informasi yang diterima dan ditangkap oleh manusia,
sehingga manusia dapat mengenal dunia luar. Pancaindra yang memiliki
peran besar dalam aktivitas belajar adalah mata dan telinga. Oleh karena
itu, baik guru maupun siswa perlu menjaga pancaindra dengan baik, baik
secara preventif maupun yang,bersifat kuratif, dengan
menyediakan sarana belajar yang memenuhi persyaratan, memeriksakan
kesehatan fungsi mata dan telinga secara periodik, mengonsumsi makanan
yang bergizi, dan lain sebagainya.
2) Faktor psikologis
Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat memengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama memengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap, dan bakat.
Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat memengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama memengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap, dan bakat.
- Kecerdasan/inteligensi siswa
Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai
kemampuan psiko-fisik dalam mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri
dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan demikian, kecerdasan
bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ-organ
tubuh yang lain. Namun bila dikaitkan dengan kecerdasan, tentunya otak
merupakan organ yang penting dibandingkan organ yang lain, karena fungsi
otak itu sendiri sebagai pengendali tertinggi (executive control) dari
hampir seluruh aktivitas manusia.
Kecerdasan merupakan faktor psikologis
yang paling penting dalam proses belajar siswa, karena itu menenentukan
kualitas belajar siswa. Semakin tinggi tingkat inteligensi seorang
individu, semakin besar peluang individu tersebut meraih sukses dalam
belajar. Sebaliknya, semakin rendah tingkat inteligensi individu,
semakin sulit individu itu mencapai kesuksesan belajar. Oleh karena
itu, perlu bimbingan belajar dari orang lain, seperti guru, orangtua,
dan lain sebagainya. Sebagai faktor psikologis yang penting dalam
mencapai kesuksesan belajar, maka pengetahuan dan pemahaman tentang
kecerdasan perlu dimiliki oleh setiap calon guru atau guru profesional,
sehingga mereka dapat memahami tingkat kecerdasan siswanya.
Pemahaman tentang tingkat kecerdasan
individu dapat diperoleh oleh orangtua dan guru atau pihak-pihak yang
berkepentingan melalui konsultasi dengan psikolog atau psikiater.
Sehingga dapat diketahui anak didik berada pada tingkat kecerdasan yang
mana, amat superior, superior, ratarata, atau mungkin lemah mental.
Informasi tentang taraf kecerdasan seseorang merupakan hal yang sangat
berharga untuk memprediksi kemampuan belajar seseorang. Pemahaman
terhadap tingkat kecerdasan peserta didik akan membantu mengarahkan dan
merencanakan bantuan yang akan diberikan kepada siswa.
- Motivasi
Motivasi adalah salah satu faktor yang
memengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasilah yang
mendorong siswa inginn melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi
mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang
aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat
(Slavin, 1994). Motivasi juga diartikan sebagai pengaruh
kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan arah perilaku
seseorang. Dari sudut sumbernya, motivasi dibagi menjadi dua, yairu
motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah
semua faktor yang berasal dari dalam diri individu dan memberikan
dorongan untuk melakukan sesuatu. Seperti seorang siswa yang gemar
membaca, maka ia tidak perlu disuruh-suruh untuk membaca, karena
membaca tidak hanya menjadi aktivitas kesenangannya, tapi bisa jadi
juga telah menjadi kebutuhannya. Dalam proses belajar, motivasi
intrinsik memiliki pengaruh yang lebih efektif, karena motivasi
intrinsik relatif lebih lama dan tidak tergantung pada motivasi dari
luar (ekstrinsik).
Menurut Arden N. Frandsen (Hayinah, 1992), yang termasuk dalam motivasi intrinsik untuk belajar antara lain adalah:
- Dorongan ingin tahu dan ingin menyelediki dunia yang lebih luas;
- Adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk maju;
- Adanya keinginan untuk mencapai prestasi sehingga mendapat dukungan dari orang-orang penting, misalkan orangtua, saudara, guru, atau teman-teman, dan lain sebagainya;
- Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau pengetahuan yang berguna bagi dirinya, dan lain-lain.
Motivasi ekstrinsik adalah faktor yang
datang dari luar diri individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan
untuk belajar. Seperti pujian, peraturan, tata tertib, reladan guru
orangtua, dan lain sebagainya. Kurangnya respons dari lingkungan secara
positif akan memengaruhi semangat belajar seseorang menjadi lemah.
- Minat
Secara sederhana, minat (interest) berarti
kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar
terhadap sesuatu. Menurut Reber (Syah, 2003), minat bukanlah istilah
yang populer dalam psikologi disebabkan ketergantungannya terhadap
berbagai faktor internal lainnya, seperti pemusatan perhatian,
keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.
Namun lepas dari kepopulerannya, minat
sama halnya dengan kecerdasan dan motivasi, karena memberi pengaruh
terhadap aktivitas belajar. Karena jika seseorang tidak memiliki minat
untuk belajar, ia akan tidak bersemangat atau bahkan tidak mau belajar.
Oleh karena itu, dalam konteks belajar di kelas, seorang guru atau
pendidik lainnya perlu membangkitkan minat siswa agar tertarik terhadap
materi pelajaran yang akan dipelajarinya.
Untuk membangkitkan minat belajar siswa tersebut, banyak cara yang bisa digunakan. Antara lain, pertama, dengan
membuat materi yang akan dipelajari semenarik mungkin dan tidak
membosankan, baik dari bentuk buku materi, desain pembelajaran yang
membebaskan siswa untuk mengeksplor apa yang dipelajari, melibatkan
seluruh domain belajar siswa (kognitif, afektif, psikomotorik) sehingga
siswa menjadi aktif, maupun performansi guru yang menarik saat mengajar.
Kedua, pemilihan jurusan atau bidang studi. Dalam hal ini,
alangkah baiknya jika jurusan atau bidang studi dipilih sendiri oleh
siswa sesuai dengan minatnya.
- Sikap
Dalam proses belajar, sikap individu
dapat memengaruhi keberhasilan proses belajarnya. Sikap adalah gejala
internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi
atau merespons dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang,
peristiwa dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif (Syah,
2003). Sikap siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan senang
atau tidak senang pada performan guru, pelajaran, atau lingkungan
sekitarnya. Dan untuk mengan tisipasi munculnya sikap yang negatif dalam
belajar, guru sebaiknya berusaha untuk menjadi guru yang profesional
dan bertanggung jawab terhadap profesi yang dipilihnya. Dengan
profesionalitas, seorang guru akan berusaha memberikan yang terbaik
bagi siswanya; berusaha mengembangkan kepribadian sebagai seorang guru
yang empatik, sabar, dan tulus kepada muridnya; berusaha untuk
menyajikan pelajaran yang diampunya dengan baik dan menarik sehingga
membuat siswa dapat mengikuti pelajaran dengan senang dan tidak
menjemukan; meyakinkan siswa bahwa bidang srudi yang dipelajari
bermanfaat bagi diri siswa.
- Bakat
Faktor psikologis lain yang memengaruhi proses belajar adalah bakat. Secara umum, bakat (aptitude) didefinisikan
sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai
keberhasilan pada masa yang akan datang (Syah, 2003). Berkaitan dengan
belajar, Slavin (1994) mendefinisikan bakat sebagai kemampuan umum yang
dimiliki seorang siswa untuk belajar. Dengan demikian, bakat adalah
kemampuan seseorangyang menjadi salah satu komponen yang diperlukan
dalam proses belajar seseorang. Apabila bakat seseorang sesuai dengan
bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan mendukung proses
belajarnya sehingga kernungkinan besar ia akan berhasil.
Pada dasarnya, setiap orang mempunyai
bakat atau potensi untuk mencapai prestasi belajar sesuai dengan
kemampuannya masing-masing. Karena itu, bakat juga diartikan sebagai
kemampuan dasar individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa
tergantung upaya pendidikan dan latihan. Individu yang telah memiliki
bakat tertentu, akan lebih mudah menyerap segala informasi yang
berhubungan dengan bakat yang dimilikinya. Misalnya, siswa yang
berbakat di bidang bahasa akan lebih mudah mempelajari bahasa-bahasa
lain selain bahasanya sendiri.
b. Faktor faktor eksogen/eksternal
Selain karakteristik siswa atau
faktor-faktor endogen, faktor-faktor eksternal juga dapat memengaruhi
proses belajar siswa. Dalam hal ini, Syah (2003) menjelaskan bahwa
faktor faktor eksternal yang memengaruhi belajar dapat digolongkan
menjadi dua golongan, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor
lingkungan nonsosial.
1) Lingkungan sosial
- Lingkungan sosial masyarakat. Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran dan anak telantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa, paling tidak siswa kesulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilikinya.
- Lingkungan sosial keluarga. Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaan keluarga, semuanya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa. Hubungan antara anggota keluarga, orangtua, anak, kakak, atau adik yang harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.
- c. Lingkungan sosial sekolah, seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang siswa. Hubungan yang harmonis antara ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baik di sekolah. maka para pendidik, orangtua, dan guru perlu memerhatikan dan memahami bakat yang dimiliki oleh anaknya atau peserta didiknya, antara lain dengan mendukung, ikut mengembangkan, dan tidak memaksa anak untuk memilih jurusan yang tidak sesuai dengan bakatnya.
2) Lingkungan nonsosial.
Faktor faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah:
- a. Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang sejuk dan tenang. Lingkungan alamiah tersebut merupakan faktor-faktor yang dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa. Sebaliknya, bila kondisi lingkungan alam tidak mendukung, proses belajar siswa akan terhambat.
- b. Faktor instrumental, yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar, lapangan olahragd dan lain sebagainya. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, buku panduan, silabi, dan lain sebagainya.
Faktor materi pelajaran (yang diajarkan
ke siswa). Faktor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan
siswa, begitu juga dengan metode mengajar guru, disesuaikan dengan
kondisi perkembangan siswa. Karena itu, agar guru dapat memberikan
kontribusi yang positif terhadap aktivitas belajar siswa, maka guru
harus menguasai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang
dapat diterapkan sesuai dengan kondisi siswa.
Faktor Kelulusan UN..
Diposting oleh begar2nd di 02.54Pendahuluan
Para siswa dan guru yang disalahkan pun pasti akan membela diri. Lantas siapa yang harus disalahkan. Kalau mau fair, tentu tidak mudah menentukan siapa yang salah. Karena sesungguhnya keberhasilan itu sangat dipengaruhi oleh banyak sekali faktor. Secara garis besar faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan ke dalam dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor-faktor
yang berasal dalam diri siswa sendiri, seperti kecerdasan intelektual,
kecemasan, kesiapan mental, bahkan kondisi fisik. Bagi siswa yang
memiliki keterbatasan kecerdasan intelektual tentu akan mengalami
kesulitan menghadapi soal-soal UN yang diperuntukkan mereka yang normal
dan di atas normal, sekalipun batas kelulusan hanya 5,5. Sekuat apapun
mereka berusaha dan menyiapkan diri, tetapi karena memang dasarnya
kecerdasan mereka terbatas akan sulit berhasil dengan baik. Dengan
kondisi seperti ini, apakah mereka pantas disalahkan atas kegagalannya
lulus UN. Satu hal yang pasti dan patut kita sadari adalah bahwa tidak
ada seorang pun mau memiliki keterbatasan kecerdasan intelektual ini.
Semua orang pasti menginginkan memiliki kecerdasan yang luar biasa,
minimal normal.
Faktor kecemasan apabila ada dalam ambang tertentu akan mendorong siswa memiliki kekuatan untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Namun apabila kecemasan ini berlebihan, karena terlalu banyaknya tekanan — baik dari dalam diri dan terutama dari luar — maka kecemasan ini akan berdampak negatif terhadap kesiapan mereka menghadapi ujian. Dengan kata lain mereka yang terlalu cemas dan takut cenderung akan menjadi tidak siap menghadapi soal-soal; akan menjadi kurang percaya diri untuk dapat berhasil menyelesaikan soal-soal dengan baik. Pada akhirnya, dengan kondisi seperti ini jelas peluang untuk bisa berhasil lulus UN menjadi sangat kecil.
Faktor lain yang tidak kalah pentingnya yang mempengaruhi hasil belajar adalah kondisi fisik siswa. Tidak bisa dipungkiri kondisi fisik siswa yang tidak fit, sakit atau bahkan stress akan sulit dapat menyelesaikan soal-soal ujian yang membutuhkan konsentrasi penuh. Anak yang diare, misalnya — bisa jadi karena stres — akan sulit berkonsentrasi secara penuh untuk dapat menyelesaikan soal dengan baik, karena dalam waktu yang bersamaan mereka juga harus merasakan kondisi fisiknya yang tidak mendukung. Siswa yang berada dalam kondisi seperti inipun bukanlah mustahil pada akhirnya gagal lulus UNJ
Faktor kecemasan apabila ada dalam ambang tertentu akan mendorong siswa memiliki kekuatan untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Namun apabila kecemasan ini berlebihan, karena terlalu banyaknya tekanan — baik dari dalam diri dan terutama dari luar — maka kecemasan ini akan berdampak negatif terhadap kesiapan mereka menghadapi ujian. Dengan kata lain mereka yang terlalu cemas dan takut cenderung akan menjadi tidak siap menghadapi soal-soal; akan menjadi kurang percaya diri untuk dapat berhasil menyelesaikan soal-soal dengan baik. Pada akhirnya, dengan kondisi seperti ini jelas peluang untuk bisa berhasil lulus UN menjadi sangat kecil.
Faktor lain yang tidak kalah pentingnya yang mempengaruhi hasil belajar adalah kondisi fisik siswa. Tidak bisa dipungkiri kondisi fisik siswa yang tidak fit, sakit atau bahkan stress akan sulit dapat menyelesaikan soal-soal ujian yang membutuhkan konsentrasi penuh. Anak yang diare, misalnya — bisa jadi karena stres — akan sulit berkonsentrasi secara penuh untuk dapat menyelesaikan soal dengan baik, karena dalam waktu yang bersamaan mereka juga harus merasakan kondisi fisiknya yang tidak mendukung. Siswa yang berada dalam kondisi seperti inipun bukanlah mustahil pada akhirnya gagal lulus UNJ
Faktor Eksternal
Yang dimaksud faktor eksternal adalah faktor-faktor yang ada di luar diri siswa yang dapat mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan siswa lulus ujian nasional, seperti lingkungan belajar di rumah atau sekolah, lingkungan fisik tempat ujian berlangsung, fasilitas/sarana dan prasarana yang dimiliki dan digunakan siswa, baik di rumah maupun di sekolah, situasi dan kondisi pada saat ujian berlangsung, dan juga masalah teknis berkenaan dengan cara mengisi lembar jawaban dan proses pemeriksaan lembar jawaban.Para siswa yang memiliki sarana dan prasarana yang memadai dan didukung oleh lingkungan fisik dan sosial yang baik, tentu akan memiliki peluang yang sangat besar untuk berhasil dalam UN. Karena dengan faktor-faktor eksternal yang mendukung, mereka akan dengan penuh konsentrasi mempersiapkan dan mengikuti UN.
Demikian juga dengan kondisi sarana dan prasarana di sekolah. Sekolah yang memiliki sarana dan prasarana yang memadai yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar bagi siswa akan sangat membantu para siswanya menguasai kompetensi/materi yang akan diujikan. Tidaklah terlalu heran, kalau banyak siswa yang berhasil lulus dengan nilai 10, berasal dari sekolah-sekolah yang selama ini dicap sebagai sekolah “bonafid”. Sekolah-sekolah seperti ini tentu memiliki sumber belajar yang kaya yang memungkinkan para siswanya belajar lebih intens dan fokus. Tidak hanya itu, sekolah seperti ini juga dilengkapi dengan parasarana yang sangat mendukung, ruang ber-AC, lingkungan yang bersih, dlsb. yang semuanya akan membuat siswa belajar lebih konsentrasi. Tapi bagaimana dengan sekolah-sekolah yang “seadanya”. Biasanya siswa yang bersekolah di sekolah seperti ini, mereka hanya mengandalkan buku-buku yang mereka miliki yang juga seadanya. Bisakah mereka belajar maksimal yang pada akhirnya dapat lulus UN dengan baik?
Tidak kalah pentingnya adalah masalah teknik pada saat para siswa menjawab soal dan proses pemeriksaan lembar jawaban. Faktor inipun kalau saja tidak diperhatikan dengan baik dapat siswa mengalami kegagalan (tidak lulus UN). Hal ini terbukti, dari beberapa kasus, para siswa dinyatakan tidak lulus UN karena pada saat proses pemeriksaan, lembar jawaban siswa diperiksa dengan menggunakan kunci jawaban yang berbeda. Otomatis nilai siswa “anjlok” dan divonis tidak lulus. Apa jadinya, dan bagaimana nasib mereka kalau hal ini terjadi terus menerus?
Dengan analisis di atas apakah kita masih akan menyalahkan sepenuhnya kepada para siswa atas kegagalan mereka dalam UN?
Subscribe to:
Komentar (Atom)



